Rabu, 12 Juni 2013

JURNAL DIAH CITRA MURNI


ANALISIS PENGUKURAN POWER AND COS j  METER ELEKTRIK PADA BALLAST YANG ADA DIPASARAN
(Studi Eksperimen di Laboratorium Teknik Instalasi Listrik
Teknik Elektro FT UNJ)

Ari Chandra Putra
Alumni Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro 2013 (098)

Irzan Zakir
Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro

Aris Sunawar
Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro

Diah Citra Murni
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro 5115110146


ABSTRACT

This study aims to determine the damage caused to the coil ballasts and electronic ballasts, which can improve the value of cos j standard PLN (0.8 to 1). This research was conducted at the Laboratory of Building L Electrical Installation Electrical Engineering Faculty of Engineering, State University of Jakarta in July through the month of november 2012. In this research uses experimental methods to analyze the measurement and calculation of power and cos j electric meter on the market, namely ballast coil ballasts and electronic ballasts. Ballast coil used in the test as much as 3 brands are philips, db and triends and electronic ballasts used in the test as much as 2 brands namely philips and Sanex.
The power contained in a series of fluorescent lamp is more affected by the current and power factor (cos j), the higher the power factor will be smaller and smaller current also means its more efficient energy use. The electric power used in the fluorescent lamp were measured and found to exceed calculated from the installed power.
Keywords: Pengukuran Cos j, Ballast Kumparan dan Ballast Elektronik


Sejarah perkembangan perlampuan bermula pada puluhan abad yang lalu dari suatu penemuan manusia yang membutuhkan penerangan (cahaya buatan) untuk malam hari dengan cara menggosok-gosokan batu hingga mengeluarkan api / cahaya, kemudian dari api dikembangkan dengan membakar benda-benda yang mudah menyala hingga membentuk sekumpulan cahaya dan seterusnya sampai ditemukan bahan bakar minyak dan gas yang dapat digunakan sebagai bahan penyalaan untuk lampu obor, lampu minyak maupun lampu gas. Teknologi berkembang terus dengan ditemukannya lampu listrik oleh Thomas Alpha Edison pada tanggal 21 Oktober 1879 di laboratorium Edison-Menlo Park, Amerika.      Pada tahun 1910 pertama kali digunakan lampu luah (discharge) tegangan tinggi.
Prinsip kerja lampu ini menggunakan sistem emisi-elektron yang bergerak dari Katoda menuju Anoda pada tabung lampu akan menumbuk atom-atom media gas yang ada di dalam tabung tersebut, akibat tumbukan akan menjadi pelepasan energi dalam bentuk cahaya. Sistem pembangkitan cahaya buatan ini disebut Luminescence (berpendarnya energi cahaya keluar tabung). Untuk sistem penerangan dekade 1990-an yang banyak digunakan oleh masyarakat umum saat ini adalah jenis lampu fluorescent ballast elektronik.


BALLAST LAMPU

Ada beberapa jenis lampu penerangan, diantaranya lampu pijar (Incandescent lamp) dan lampu neon atau TL (fluorescent lamp). Lampu Incandescent (Lampu Pijar) dibangkitkan dengan mengalirkan arus listrik dalam suatu kawat halus.
Pada lampu neon atau TL (fluorescent lamp) menggunakan ballast yang merupakan komponen dalam lampu TL, yang berfungsinya untuk membangkitkan tegangan kejut, untuk start penyalaan lampu TL dan pembatasan arus tabung ( Amelia, 2007).
Ballast yang dipakai lampu neon atau TL (fluorescent lamp) ada 2 macam yaitu ballast kumparan atau disebut juga ballast konvensional dan ballast elektronik.

Ballast Kumparan
Ballast kumparan yang digunakan dalam lampu fluorescent terdiri dari induktor yang dihubungkan seri dengan satu elektroda, ballast kumparan dapat dibentuk dari suatu kawat penghantar yang dililitkan sedemikian rupa atau berupa lilitan kumparan coke (Choke coil) berinti besi dan ballast dapat juga dibuat dari rangkaian elektronik.
Ballast elektronik sering disebut juga dengan ballast hemat energi, daya yang digunakan oleh ballast elektronik cukup rendah. Ballast yang terdapat di pasaran mempunyai berbagai merk, baik ballast kumparan maupun ballast elektronik. Dari kedua ballast itu terdapat perbedaan seperti konstruksi, rangkaian, harga dan label yang tercantum. Label yang tertulis pada ballast diantaranya tegangan, arus, daya listrik, frekuensi dan faktor daya (cos j). Pada lampu TL terdapat berbagai ukuran dan besarnya daya atau watt yang tercantum (Aulawi, 2004).
Dalam rangka efisiensi penggunaan energi listrik, dianjurkan mempergunakan alat-alat listrik
hemat energi yang akan menghemat penggunaan listrik, seperti peralatan listrik dengan menggunakan komponen elektronika atau menggunakan bola lampu yang mempunyai arus dan tegangan sefasa , tetapi dalam keadaan tertentu penggunaan energi listrik yang menggunakan gulungan kawat (induktor) diantaranya induktor pada lampu TL berupa ballast, yang akan mengakibatkan adanya daya listrik yang terbuang dari alat tersebut sehingga penggunaan alat tersebut tidak maksimal dan pembayaran rekening tidak sesuai dengan listrik yang dipakai.
Rangkaian yang ada komponen kumparan (induktor) seperti pada lampu TL akan mengakibatkan arus tertinggal (lagging) terhadap tegangan yang menimbulkan sudut fasa (yang disebut cos j), besarnya cos j akan mengakibatkan seberapa besar energi yang terbuang, hal ini disebabkan daya yang dipakai (daya nyata P) tidak sama dengan daya yang dihitung oleh meter kwh yaitu daya semu (S).
Energi yang terbuang disebabkan oleh adanya arus yang tertinggal dari tegangan yang akhirnya menimbulkan sudut fasa, yang berarti besarnya cos j akan menunjang besarnya energi yang terbuang dan ini sangat merugikan, sehingga perlu dilakukan usaha untuk memperbaiki faktor daya pada rangkaian lampu TL dengan cara menghilangkan daya semua yang ada. Oleh karena sistem lampu fluorescent konvensional yang menggunakan ballast kumparan memiliki faktor daya rendah, rugi-rugi daya dalam kumparan, tundaan penyalaan dan efek kedipan.

Ballast Elektronik
Ballast elektronik terdiri dari sistem rangkaian penyearah - inverter. Ballast tersebut menggunakan inverter transistor yang mampu membangkitkan frekwensi tinggi untuk menyalakan lampu fluorescent.
Lampu tabung atau tube lamp (TL) yang dikenal sebagai lampu neon (tabung berisi gas neon) merupakan penerangan yang boros listrik, karena untuk merambatkan medan gelombang listrik dari ujung anoda ke ujung katoda didalam tabung diperlukan frekuensi gelombang tinggi yang dihasilkan dari kumparan yang disebut ballast dan pemutus frekuensi tinggi yang disebut starter. Setiap kumparan tidak bisa dibuat sempurna sehingga efisiensi faktornya paling-paling mencapai 0.8 dan 20%-nya hilang sebagai panas dan berbunyi dengung. Daya yang terbuang inilah yang menimbulkan pemborosan listrik.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti meneliti dan menguraikan Berapakah perbedaan kerugian daya listrik yang diakibatkan pada instalasi listrik penerangan lampu TL (Tube Lamp) yang faktor kerja menggunakan ballast kumparan dan elektronik ?

Penelitian bertujuan Untuk:
1.    Mengetahui nilai kerugian-kerugian daya listrik yang diakibatkan pada instalasi listrik penerangan lampu TL (Tube Lamp) menggunakan ballast kumparan dan elektronik.
2.    Dapat memperbaiki faktor daya yang sesuai dengan standart PLN (0,8 s/d 1) (Badan Standardisasi Nasional. 2000).
3.    Mengetahui dan memperbaiki ketidakstabilan tegangan yang ditimbulkan saat penerangan lampu TL menggunakan ballast kumparan dan elektronik.
4.    Menstabilkan pemakaian arus yang terjadi pada penerangan lampu TL menggunakan ballast kumparan dan elektronik.


PENGUKURAN COS

Konservasi energi merupakan pemanfaatan sumber-sumber daya energi dengan daya guna yang tinggi. Istilah konservasi energi dalam kaitan itu merupakan semua langkah yang diambil ke arah menurunkan berbagai kehilangan energi pada taraf pengelolaan, dari eksploitasi, pemprosesan, sampai pemanfaatan. Hemat energi adalah bagian dari konservasi (Kuspijani. 2007).
Dalam rangka konservasi perlu dipertimbangkan pula harga bahan bakar dari prospek energi di waktu yang akan datang, jika misalnya harga minyak dan gas dinaikkan, maka cadangan yang akan dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang lebih lama, akan sulit untuk dipertahankan sehingga akan dicari upaya mengembangkan energi alternative (Belly, 2010).

Definisi ballast dan macam-macam ballast, ballast lampu fluorescent mempunyai dua macam yaitu ballast  kumparan dan ballast elektronik.

Pengukuran Tegangan, Arus dan Daya
Listrik pada lampu TL yang Menggunakan Ballast Elektronik. Pemakaian lampu TL (fluorescent) dewasa ini sangat digemari oleh konsumen / pemakai penerangan lampu karena pada umumnya sinar lampu TL ini lebih putih bersih dan tidak melelahkan mata. Lampu TL (fluorescent) salah satu lampu yang cahaya penyalaannya dinilai baik.
Lampu TL atau lampu fluorescent dalam penyalaannya tak lepas dari bantuan ballast sebagai pemanasan mula dan tegangan kejut dalam tabung, agar elektron yang ada pada tabung lampu TL dapat berpendar sehingga dapat mengadakan bunga api, kemudian dapat menyatukan kedua elektron sehingga cahaya pada lampu TL akan tampak (Nugroho, 2010).
Ballast di pasaran cukup banyak jenisnya di antaranya ballast kumparan  dan ballast elektronik.
Ballast kumparan jika dilihat dari bahan serta sifat kumparan yang digunakannya, oleh karena itu ballast ini mudah didapat karena banyak dipasaran. Ballast kumparan memiliki prinsip kerja secara induksi/induktansi, dimana ballast yang bekerja secara induktansi ballast kumparan terdapat rugi-rugi inti besi yang terdapat pada gulungan atau kumparan kawat sehingga memiliki faktor daya yang sangat kecil sehingga dapat menyebabkan kerugian faktor kerja dan kehilangan daya yang cukup besar, baik yang diderita oleh konsumen maupun pensuplay (PLN) dan pencahayaan lampu TL akan mudah terganggu jika adanya perubahan tegangan suplay (Samaulah, 2012).
Sedangkan pada ballast elektronik tidak terdapat rugi-rugi inti besi karena terbuat dari rangkaian atau sirkuit elektronik dan pada saat start awal tidak menarik arus yang begitu tinggi atau besar seperti ballast kumparan sehingga ballast elektronik tidak mempengaruhi faktor daya sebab nilainya mendekati 0,8 – 1.
Namun perlu diingat untuk mencegah terjadinya kerusakan pada ballast elektronik, yaitu daya ballast elektronik harus sesuai dengan daya pada lampu yang akan digunakan.
Berdasarkan perbedaan diatas bahwa ballast elektronik memiliki faktor daya (Cos j) yang besar dan baik dalam penyalaan lampu TL lebih dapat stabil dan konsisten walaupun tegangan pensuplay listrik dalam keadaan tidak normal (tegangan suplay naik atau turun) dan dapat tahan lama,
Sedangkan daya listrik pada lampu TL yang menggunakan ballast kumparan lebih besar dari pada daya listrik menggunakan ballast elektronik. Hal ini disebabkan karena ballast kumparan memiliki faktor daya (Cos j) lebih kecil dari pada faktor daya (Cos j) ballast elektronik yang mendekati satu dengan menggunakan lampu TL yang ada dipasaran (Nugroho, 2010).
Dengan demikian maka diduga ballast yang dibuat dengan sistem elektronik didugai hasil analisis pengukuran power and cos j meter elektrik pada ballast elektronik lebih baik dari pada ballast kumparan.
Berdasarkan kerangka teoretik dan kerangka berpikir di atas dapat dirumuskan bahwa Pengukuran Power and Cos j Meter Elektrik yang menggunakan Ballast Elektronik diduga lebih baik dari pada menggunakan Ballast Kumparan.


Gambar 1. Alat Pengukuran Ballast Kumparan dan Ballask Elektronik.
Tabel 3.1  Rancangan Penelitian      
No
Percobaan
Ballast Kumparan
Ballast Elektronik
Philips
(V/mA/W)
DB
(V/mA/W)
Triends
(V/mA/W)
Philips E.
(V/mA/W)
Sanex E.
(V/mA/W)
1
Pertama





2
Kedua





3
Ketiga





4
Keempat





5
Kelima






Rata-rata





                                                                                                Sumber : Skripsi Ari Chandra
                                               

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dengan hasil akhir berdasarkan dua kelompok yaitu : kelompok lampu TL dengan ballast kumparan dan ballast elektronik. Eksperimen diulang sebanyak 5 kali dan diukur 5 kali untuk masing-masing kelompok dan kemudian dirata-ratakan.     

Instrument Alat Ukur
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk analisis pengujian secara terbuka. Dalam hal ini telah diuji dengan cara pengukuran sesuai gambar rangkaian pengujian yang telah ada (rizal22, 2012).
Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai faktor kecermatan atau kelas dari 0,1% sampai dengan 1%, yang terdapat pada Laboratorium Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Jakarta.
1.      Kecermatan (Accuracy)
      Kecermatan alat ukur biasanya dinyatakan dalam persen untuk skala penuh misalnya ± 2% untuk skala penuh, ini berarti kalau sekiranya angka atau jarum menunjukan harga skala penuh 10 volt, maka harga sebenarnya ada diantara (10 volt + 2%) dan (10 volt – 2%) atau antara 9,8 – 10,2 volt.
Pada Instrumen yang digunakan misalnya volt meter yang mempunyai skala penuh 250 volt, kecermatan alat ± 1,5%, jika jarum menunjukan pada angka 220 volt, sehingga dapat dihitung
kecermatan dititik skala itu, yaitu : (0,015 : 220 volt)x 250x  100% = 1,7 %, sedangkan untuk kecermatan untuk penunjukan 110 volt menjadi (0,015 : 1100 volt)x 250x  100% = 3,4 %.
Alat atau instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.      Digital Instrument (Watt Meter Digital) digunakan untuk mengukur daya listrik pada ballast.
-          Model DW 6060 Lutron
-          9 V NEDA 1604  6F 22 006P Made Taiwan









Gambar 3. Digital
Instrument
(Watt Meter Digital)

2.      Alat Ukur Jarum Manual (Voltmeter, Amperemeter dan miliAmpermeter) digunakan untuk mengukur tegangan dan arus listrik pada ballast.
-          HELES Tipe CR-52 Class 2.5 :271488
-          Alat Ukur Jarum Manual : a.Voltmeter,
b. Ampermeter,
Penelitian ini dilakukan terhadap 5 jenis ballast yaitu 3 jenis ballast kumparan dan 2 jenis ballast elektronik. Setiap ballast diukur tegangan, arus, daya dan faktor dayanya (cos j). Adapun prosedur penelitian yang dilakukan diantaranya:
1.      Menyiapkan alat-alat pengumpul data penelitian (instrumen) dan alat serta bahan seperti voltmeter, amperemeter, miliamperemeter, wattmeter, ballast kumparan, ballast elektronik dll, sehingga dalam pengumpulan data ini tidak terjadi hambatan.
2.      Menyiapkan blangko pencatat hasil percobaan guna memudahkan mencatat data-data hasil penelitian yang telah dilakukan.
3.      Memasang ballast pada rangkaian atau alat sesuai daya lampu kemudian dihubungkan dengan alat ukur dan sumber listrik
4.      Mengadakan uji coba Instrumen setelah rencana pengamatan yang harus dilakukan tersusun, selanjutnya diadakan uji alat ukur agar data hasil penelitian tidak terjadi kesalahan dan menghindari kesulitan-kesulitan pada saat pengambilan data.
5.      Percobaan dilakukan satu persatu ballast menurut jenis dan daya yang tercantum secara bergantian dalam beberapa hari.
6.      Hasilnya dicatat secara benar dan cermat sesuai tabel instrumen.
7.      Pergunakan alat ukur sesuai dengan fungsinya.
8.      Setelah melakukan pengukuran rapikan alat dan bahan.

Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Eksperimen, yaitu cara pengujian alat atau komponen lampu TL yaitu ballast kumparan dan elektronik.
Data diambil dari hasil pengukuran masing-masing jenis-jenis ballast tersebut, yang tiap-tiap jenis atau merk terdiri 3 ballast kumparan dan 2 ballast elektronik sebanyak 5 kali percobaan. Data-data hasil pengukuran dari kedua tipe yang berbeda tersebut akan dirata-ratakan dan dibandingkan untuk melihat seberapa besar perbedaan ballast tersebut.

Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel terikat adalah hasil pengukuran power and cos j meter elektrik pada ballast.
Variabel bebas adalah jenis ballas yang terdiri dari: (1) Ballast Kumparan dan (2) Ballast Elektronik.
Disamping Ballast sebagai variabel bebas ada variabel kontrol lain yang didapat diambil sebagai variabel bebas antara lain yaitu : besar daya, tegangan, arus, type lampu TL, merk ballast.

Populasi, Sampel dan Teknik
Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua hasil pengukuran power and cos j meter elektrik yang menggunakan dua jenis ballast yaitu ballast kumparan dan elektronik. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran power and cos j meter elektrik yang menggunakan ballast kumparan dan elektronik, yang terdiri dari 3 ballast kumparan dan 2  ballast elektronik (Susanto, 2007).
Hasil percobaan akan diuji power dan cos j meter elektrik. Satu sampel akan diukur dengan alat Cos j meter sebanyak 5 kali kemudian diambil rata-ratanya. Hasil nilai rata-rata tersebut adalah nilai dari tiap satu sampel dan merupakan data yang akan dianalisa.


HASIL PENELITIAN

Penelitian untuk mengukur besarnya faktor daya (cos j) pada rangkaian ballast kumparan dan ballast elektronik dengan percobaan sebanyak 5 kali. Hal ini bertujuan untuk memperoleh nilai yang akurat, pada hasil penelitian ternyata menghasilkan data yang mengalami perubahan pada besarnya faktor daya (Cos j) tiap ulangan pengukuran tapi tidak begitu signifikan nilainya.
Dari hasil pengukuran dan perhitungan dari 2 macam ballast sebanyak 5 kali percobaan dapat disimpulkan bahwa dari data hasil perbandingan pengukuran dan perhitungan yang telah di jabarkan pada sub bab hasil penelitian menerangkan bahwa ballast kumparan lebih besar arusnya dari pada ballast elektronik dengan daya ballast yang sama yang terdapat pada hasil  pengukuran dan perhitungan arus (mA) lampu TL 1x18watt serta lampu TL lainnya.
Pada daya ballast kumparan lebih besar daripada spesifikasi ballast tersebut yang terjadi pada lampu TL 1x18 watt ditulis 18 watt ternyata pada dilakukan pengukuran sebesar 26,4 watt dan dihitung sebesar 26,36 watt tapi pada ballast elektronika daya pada ballast mendekati daya yang tercantum dispesifikasi ballast tersebut pada lampu 1x18 watt yang tertulis di ballast 18 watt di ukur sebesar 18,6 watt dan dihitung sebesar 18,57 watt maka dapat disimpulkan bahwa ballast elektronik lebih efisien dan hemat.
Dari hasil pengukuran dan perhitungan seluruhnya ballast kumparan dan ballast elektronik untuk tegangan standart PLN range 220-240 Volt dapat disimpulkan bahwa tegangan  ballast elektronik philips lebih besar lalu ballast kumparan db, ballast elektronik sanex, ballast kumparan triends dan ballast kumparan philips. Pada hasil pengukuran dan perhitungan arus ballast kumparan dan ballast elektronik ternyata tiap daya ballast 10, 18 dan 36 berbeda hasil yang paling mendekati arus nominalnya pada ballast daya 10 watt yang paling kecil arusnya ballast kumparan, ballast db dan ballast triends, pada daya ballast 18 watt yang lebih kecil arusnya pada ballast  elektronik philips, sanex, ballast kumparan db, triends dan ballast kumparan philips yang besar arusnya (Sudibyo, 2011)
Daya listrik pada ballast kumparan dan ballast elektronik dapat disimpulkan bahwa  ballast elektronik lebih mendekati daya yang tercantum pada ballast tersebut lalu ballast kumparan dan pada faktor daya ballast kumparan dan ballast elektronik (cos j) dapat simpulkan bahwa ballast elektronik lebih besar atau baik faktor dayanya yang mendekati standart PLN yaitu 0,668.
Untuk peralatan listrik  yang dihubungkan untuk memberikan keluaran tertentu oleh kebutuhan volt-ampere beban, karena itu keluarannya dipengaruhi langsung oleh faktor daya beban yang bersangkutan. Dengan faktor daya maksimum, kerugian daya karena resistansi saluran akan berkurang, alasannya adalah untuk memberikan daya sama besar, diperlukan arus yang lebih besar bila faktor daya maksimum lebih rendah daripada faktor daya beban yang mempunyai faktor daya lebih tinggi. Rugi-rugi yang ditimbulkan oleh resistansi saluran sebanding dengan pangkat dua arus yang mengalir dalam saluran, karena itu rugi-rugi ini akan menjadi lebih kecil bila faktor dayanya tinggi. Perbaikan atau koreksi faktor daya tersebut dapat dilakukan dengan memasang kapasitor yang dihubungkan paralel dengan beban yang umumnya bersifat induktif, perbaikan faktor daya ini dikenal dengan kompensasi fasa.


PENUTUP

Kesimpulan
Dalam penelitian ini masalah yang diungkap adalah mengenai besar faktor daya listrik pada lampu TL yang menggunakan ballast kumparan dengan ballast elektronik
Hasil dari pengukuran dari tiga buah ballast kumparan dan dua ballast elektronik diperoleh nilai besar daya listrik pada lampu TL dengan menggunakan ballast kumparan merk philips 10, 18 dan 36 watt, merk DB 10, 18 dan 36 watt, merk triends 10, 18 dan 36 watt serta besar daya listrik lampu TL dengan menggunakan ballast elektronik merk philips 18 dan 36 watt, merk sanex 18 dan 36 watt.
Daya yang terdapat di dalam rangkaian lampu TL lebih dipengaruhi oleh arus dan faktor daya listrik (Cos j), semakin tinggi faktor dayanya akan semakin kecil arusnya dan semakin kecil pula dayanya berati semakin efisien energi yang terpakai. Daya listrik yang dipakai dalam lampu TL yang diukur dan dihitung ternyata melebihi dari daya tertulis. 
Berdasarkan analisis data hasil pengukuran dan perhitungan menunjukkan bahwa daya listrik pada lampu TL yang menggunakan ballast kumparan lebih besar dari pada daya listrik yang menggunakan ballast elektronik. Hal ini disebabkan karena ballast kumparan memiliki Cos j kecil dari pada Cos j ballast elektronik yang mendekati 0,607 – 0,668.
Dilihat dari hasil pengukuran dan perhitungan yang mempunyai nilai faktor daya listrik (cos j) yang tinggi adalah ballast elektronik merk philips, yaitu cos j-nya sebesar 0,668, yang berarti 23,65% tertinggi dari nilai faktor daya listrik (cos j) ballast lainnya.
Pada ballast kumparan terdapat rugi-rugi pada gulungan atau kumparan kawat sehingga Cos j lebih kecil dari pada ballast elektronik yang tidak terdapat rugi-rugi karena terbuat dari rangkaian atau sirkuit elektronik.
          
Saran
Dari hasil penelitian  diharapkan:
1.      Mahasiswa program studi pendidikan teknik elektro dapat memanfaatkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini khususnya dalam hal jenis ballast yang digunakan untuk sebuah lampu TL dan pemakaian daya listrik pada mata kuliah teknik instalasi listrik dan mata kuliah bahan-bahan listrik.
2.      Mahasiswa teknik elektro dapat melanjutkan penelitian ini dengan mengangkat kelemahan yang ada dalam penelitian skripsi ini.
3.      Penelitian ini merupakan tahap awal mendorong mahasiswa melakukan penelitian selanjutnya berupa proses penyalaan lampu agar cepat menyala dan penggunaan kapasitor untuk mengurangi daya listrik atau kehilangan faktor daya.
4.      Kepada Jurusan Teknik Elektro khususnya Program Studi Teknik Elektro agar menyediakan alat-alat praktikum yang baru khusunya alat ukur cos j meter  karena yang ada di jurusan sudah error dan perlu diadakan kalibrasi dan diadakan yang baru untuk mempersiapkan mahasiswa-mahasiswinya bisa terjun di dunia kerja atau pendidikan berkompeten.
5.      Didalam penggunaan lampu TL, hendaknya konsumen memilih ballast yang efisien dan hemat energi seperti pada ballast elektronik.


DAFTAR PUSTAKA

Amelia, Afritha ST.;  Azis, Ir.Abdul
M.M.; Hasibuan, Arnawan
ST,M.T.; 2007. Perbaikan
Ekonomis Pemakaian Lampu
Incandescent dengan Lampu
Flourescent, Medan:
Politeknik Negeri Medan.

Aulawi, A Wasit,S.Pd. 2004.
Perbandingan Besar Daya
Listrik Pada Lampu TL yang
Menggunakan Ballast
Kumparan Dengan Ballast
Elektronik Untuk Beban
Lampu TL 36 Watt Merk
Philips [skripsi]. Jakarta:
Universitas Negeri Jakarta.

Badan Standardisasi Nasional. 2000.
Peraturan Umum Instalasi
Listrik.
SNI 04-0225-2000.

Belly , Anton.; Dadan, Asep.;
;Agusman,Candra.; Lukman.
Budi. 2010.“Daya Aktif,
Reaktif & Nyata”.
(diunduh).http://staff.ui.ac.id/
internal/040603019/material
activereactiveandapparentpo
werpaper.pdf.
[10-01-2013, 14:08 wib].

Kuspijani. Ir.; Afianti,
Hasti,S.T,M.T.;
Amirullah,S.T.2007. Efisiensi
Penggunaan Daya Listrik
Pada Rangkaian Lampu TL
Melalui Perbaikan Faktor
Daya, (Surabaya: Lembaga
PenelitianUniversitas
Bhayangkara Surabaya.

Nugroho, Cahyo.2010.  “Pert.I
Pengertian_daya_arus dan

rizal22, muhammad.2012. “Faktor
Daya“ (2012-06-04).

Samaulah, Ir.H.Hazairin,.M.Eng.,
Ph.D. 2002.Teknik Instalasi
Tenaga Listrik, Sumatera
Selatan: Universitas
Sriwijaya.

Sudibyo, Djoni. “Stop Kontak“.
W.K. Susanto. “ballast” (Friday,
June 8,2007).