ANALISIS PENGUKURAN POWER AND COS j METER ELEKTRIK PADA
BALLAST YANG ADA DIPASARAN
(Studi Eksperimen di Laboratorium Teknik Instalasi Listrik
Teknik Elektro FT UNJ)
Ari Chandra Putra
Alumni Universitas
Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro 2013 (098)
Irzan Zakir
Dosen Universitas
Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro
Aris Sunawar
Dosen Universitas
Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro
Diah Citra Murni
Mahasiswa Universitas
Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro 5115110146
ABSTRACT
This study
aims to determine the damage caused to
the coil ballasts and electronic ballasts,
which can improve the value of cos j standard
PLN (0.8 to 1). This
research was conducted at the Laboratory of Building L Electrical
Installation Electrical Engineering
Faculty of Engineering, State University
of Jakarta in July through
the month of november 2012. In this research uses experimental
methods to analyze the measurement and calculation of power and cos j
electric meter on
the market, namely ballast coil ballasts and
electronic ballasts. Ballast coil used in
the test as much as 3 brands
are philips, db
and triends and
electronic ballasts used in the test as much as 2 brands namely philips
and Sanex.
The power contained in a series of fluorescent lamp is more affected by the current and power factor (cos j),
the higher the power factor will be smaller and smaller current also means
its more efficient
energy use. The
electric power used in the fluorescent
lamp were measured and found to exceed calculated from the installed power.
Keywords: Pengukuran Cos j, Ballast Kumparan dan Ballast Elektronik
Sejarah
perkembangan perlampuan bermula pada puluhan abad yang lalu dari suatu penemuan
manusia yang membutuhkan penerangan (cahaya buatan) untuk malam hari dengan
cara menggosok-gosokan batu hingga mengeluarkan api / cahaya, kemudian dari api
dikembangkan dengan membakar benda-benda yang mudah menyala hingga membentuk
sekumpulan cahaya dan seterusnya sampai ditemukan bahan bakar minyak dan gas
yang dapat digunakan sebagai bahan penyalaan untuk lampu obor, lampu minyak maupun
lampu gas. Teknologi berkembang terus dengan ditemukannya lampu listrik oleh
Thomas Alpha Edison pada tanggal 21 Oktober 1879 di laboratorium Edison-Menlo
Park, Amerika. Pada tahun 1910
pertama kali digunakan lampu luah (discharge)
tegangan tinggi.
Prinsip kerja
lampu ini menggunakan sistem emisi-elektron yang bergerak dari Katoda menuju
Anoda pada tabung lampu akan menumbuk atom-atom media gas yang ada di dalam
tabung tersebut, akibat tumbukan akan menjadi pelepasan energi dalam bentuk
cahaya. Sistem pembangkitan cahaya buatan ini disebut Luminescence (berpendarnya energi cahaya keluar tabung). Untuk
sistem penerangan dekade 1990-an yang banyak digunakan oleh masyarakat umum
saat ini adalah jenis lampu fluorescent ballast elektronik.
BALLAST
LAMPU
Ada beberapa jenis lampu penerangan,
diantaranya lampu pijar (Incandescent
lamp) dan lampu neon atau TL (fluorescent lamp).
Lampu Incandescent (Lampu
Pijar) dibangkitkan dengan mengalirkan arus listrik dalam suatu kawat halus.
Pada lampu neon atau TL (fluorescent lamp) menggunakan ballast
yang merupakan komponen dalam lampu TL, yang berfungsinya untuk membangkitkan
tegangan kejut, untuk start penyalaan lampu TL dan pembatasan arus
tabung ( Amelia, 2007).
Ballast yang dipakai lampu neon atau TL
(fluorescent lamp) ada 2 macam yaitu ballast
kumparan atau disebut juga ballast konvensional dan ballast elektronik.
Ballast Kumparan
Ballast kumparan yang digunakan dalam
lampu fluorescent terdiri dari induktor yang dihubungkan seri dengan
satu elektroda, ballast kumparan dapat dibentuk dari suatu kawat penghantar
yang dililitkan sedemikian rupa atau berupa lilitan kumparan coke (Choke coil) berinti besi dan ballast dapat juga dibuat dari
rangkaian elektronik.
Ballast
elektronik sering disebut juga dengan ballast hemat energi, daya yang digunakan
oleh ballast elektronik cukup rendah. Ballast yang terdapat di pasaran
mempunyai berbagai merk, baik ballast kumparan maupun ballast elektronik. Dari
kedua ballast itu terdapat perbedaan seperti konstruksi, rangkaian, harga dan
label yang tercantum. Label yang tertulis pada ballast diantaranya tegangan,
arus, daya listrik, frekuensi dan faktor daya (cos j). Pada lampu TL terdapat berbagai ukuran dan
besarnya daya atau watt yang tercantum (Aulawi, 2004).
Dalam rangka efisiensi penggunaan
energi listrik, dianjurkan mempergunakan alat-alat listrik
hemat energi yang akan menghemat penggunaan listrik, seperti peralatan
listrik dengan menggunakan komponen elektronika atau menggunakan bola lampu
yang mempunyai arus dan tegangan sefasa , tetapi dalam keadaan tertentu
penggunaan energi listrik yang menggunakan gulungan kawat (induktor)
diantaranya induktor pada lampu TL berupa ballast, yang akan mengakibatkan
adanya daya listrik yang terbuang dari alat tersebut sehingga penggunaan alat
tersebut tidak maksimal dan pembayaran rekening tidak sesuai dengan listrik
yang dipakai.
Rangkaian yang ada komponen kumparan
(induktor) seperti pada lampu TL akan mengakibatkan arus tertinggal (lagging) terhadap tegangan yang
menimbulkan sudut fasa (yang disebut cos j), besarnya cos j akan mengakibatkan seberapa besar
energi yang terbuang, hal ini disebabkan daya yang dipakai (daya nyata P) tidak
sama dengan daya yang dihitung oleh meter kwh yaitu daya semu (S).
Energi yang terbuang disebabkan oleh
adanya arus yang tertinggal dari tegangan yang akhirnya menimbulkan sudut fasa,
yang berarti besarnya cos j akan menunjang besarnya energi yang terbuang dan ini sangat
merugikan, sehingga perlu dilakukan usaha untuk memperbaiki faktor daya pada
rangkaian lampu TL dengan cara menghilangkan daya semua yang ada. Oleh karena
sistem lampu fluorescent
konvensional yang menggunakan ballast kumparan memiliki faktor daya rendah,
rugi-rugi daya dalam kumparan, tundaan penyalaan dan efek kedipan.
Ballast Elektronik
Ballast elektronik terdiri dari sistem
rangkaian penyearah - inverter. Ballast tersebut menggunakan inverter
transistor yang mampu membangkitkan frekwensi tinggi untuk menyalakan lampu fluorescent.
Lampu tabung atau tube lamp (TL) yang dikenal sebagai lampu neon (tabung berisi gas
neon) merupakan penerangan yang boros listrik, karena untuk merambatkan medan
gelombang listrik dari ujung anoda ke ujung katoda didalam tabung diperlukan
frekuensi gelombang tinggi yang dihasilkan dari kumparan yang disebut ballast
dan pemutus frekuensi tinggi yang disebut starter. Setiap kumparan tidak bisa
dibuat sempurna sehingga efisiensi faktornya paling-paling mencapai 0.8 dan
20%-nya hilang sebagai panas dan berbunyi dengung. Daya yang terbuang inilah
yang menimbulkan pemborosan listrik.
Berdasarkan
uraian di atas maka peneliti meneliti dan menguraikan “Berapakah
perbedaan kerugian daya listrik yang diakibatkan pada instalasi listrik
penerangan lampu TL (Tube Lamp) yang
faktor kerja menggunakan ballast kumparan dan elektronik ?
Penelitian bertujuan Untuk:
1. Mengetahui nilai kerugian-kerugian daya
listrik yang diakibatkan pada instalasi listrik penerangan lampu TL (Tube Lamp) menggunakan ballast kumparan
dan elektronik.
2. Dapat memperbaiki faktor daya yang sesuai
dengan standart PLN (0,8 s/d 1) (Badan Standardisasi Nasional. 2000).
3. Mengetahui dan memperbaiki
ketidakstabilan tegangan yang ditimbulkan saat penerangan lampu TL menggunakan
ballast kumparan dan elektronik.
4. Menstabilkan pemakaian arus yang
terjadi pada penerangan lampu TL menggunakan ballast kumparan dan elektronik.
PENGUKURAN COS
Konservasi
energi merupakan pemanfaatan sumber-sumber daya energi dengan daya guna yang
tinggi. Istilah konservasi energi dalam kaitan itu merupakan semua langkah yang
diambil ke arah menurunkan berbagai kehilangan energi pada taraf pengelolaan,
dari eksploitasi, pemprosesan, sampai pemanfaatan. Hemat energi adalah bagian
dari konservasi (Kuspijani. 2007).
Dalam rangka
konservasi perlu dipertimbangkan pula harga bahan bakar dari prospek energi di
waktu yang akan datang, jika misalnya harga minyak dan gas dinaikkan, maka
cadangan yang akan dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang lebih lama, akan
sulit untuk dipertahankan sehingga akan dicari upaya mengembangkan energi
alternative (Belly, 2010).
Definisi ballast
dan macam-macam ballast, ballast lampu fluorescent mempunyai dua macam yaitu ballast
kumparan dan ballast elektronik.
Pengukuran Tegangan, Arus dan Daya
Listrik pada lampu TL yang Menggunakan Ballast
Elektronik. Pemakaian lampu TL (fluorescent) dewasa ini sangat digemari oleh konsumen / pemakai penerangan lampu karena pada
umumnya sinar lampu TL ini lebih putih bersih dan tidak melelahkan mata. Lampu
TL (fluorescent) salah
satu lampu yang cahaya penyalaannya dinilai baik.
Lampu
TL atau lampu fluorescent dalam
penyalaannya tak lepas dari bantuan ballast sebagai pemanasan mula dan tegangan
kejut dalam tabung, agar elektron yang ada pada tabung lampu TL dapat berpendar
sehingga dapat mengadakan bunga api, kemudian dapat menyatukan kedua elektron
sehingga cahaya pada lampu TL akan tampak (Nugroho,
2010).
Ballast di pasaran
cukup banyak jenisnya di antaranya ballast kumparan dan ballast elektronik.
Ballast kumparan
jika dilihat dari bahan serta sifat kumparan yang digunakannya, oleh karena itu
ballast ini mudah didapat karena banyak dipasaran. Ballast kumparan memiliki
prinsip kerja secara induksi/induktansi, dimana ballast yang bekerja secara
induktansi ballast kumparan terdapat rugi-rugi inti besi yang terdapat pada
gulungan atau kumparan kawat sehingga memiliki faktor daya yang sangat kecil
sehingga dapat menyebabkan kerugian faktor kerja dan kehilangan daya yang cukup
besar, baik yang diderita oleh konsumen maupun pensuplay (PLN) dan pencahayaan
lampu TL akan mudah terganggu jika adanya perubahan tegangan suplay (Samaulah,
2012).
Sedangkan pada
ballast elektronik tidak terdapat rugi-rugi inti besi karena terbuat dari
rangkaian atau sirkuit elektronik dan pada saat start awal tidak menarik arus
yang begitu tinggi atau besar seperti ballast kumparan sehingga ballast
elektronik tidak mempengaruhi faktor daya sebab nilainya mendekati 0,8 – 1.
Namun perlu
diingat untuk mencegah terjadinya kerusakan pada ballast elektronik, yaitu daya
ballast elektronik harus sesuai dengan daya pada lampu yang akan digunakan.
Berdasarkan
perbedaan diatas bahwa ballast elektronik memiliki faktor daya (Cos j) yang besar dan baik dalam penyalaan lampu TL lebih dapat stabil dan konsisten
walaupun tegangan pensuplay listrik dalam keadaan tidak normal (tegangan suplay naik
atau turun) dan dapat tahan lama,
Sedangkan daya listrik pada lampu TL yang
menggunakan ballast kumparan lebih besar dari pada daya listrik menggunakan
ballast elektronik. Hal ini disebabkan karena ballast kumparan memiliki faktor
daya (Cos j) lebih kecil dari pada faktor daya (Cos j) ballast elektronik yang mendekati satu dengan menggunakan lampu TL yang
ada dipasaran (Nugroho, 2010).
Dengan demikian
maka diduga ballast yang dibuat dengan sistem elektronik didugai hasil analisis
pengukuran power and cos j meter elektrik pada ballast elektronik
lebih baik dari pada ballast kumparan.
Berdasarkan kerangka
teoretik dan kerangka berpikir di atas dapat dirumuskan bahwa Pengukuran Power
and Cos j Meter Elektrik
yang menggunakan Ballast Elektronik
diduga lebih baik dari pada menggunakan
Ballast Kumparan.
Gambar 1. Alat Pengukuran Ballast Kumparan dan Ballask
Elektronik.
Tabel
3.1 Rancangan Penelitian
|
No
|
Percobaan
|
Ballast Kumparan
|
Ballast Elektronik
|
|||
|
Philips
(V/mA/W)
|
DB
(V/mA/W)
|
Triends
(V/mA/W)
|
Philips E.
(V/mA/W)
|
Sanex E.
(V/mA/W)
|
||
|
1
|
Pertama
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Kedua
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Ketiga
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Keempat
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Kelima
|
|
|
|
|
|
|
|
Rata-rata
|
|
|
|
|
|
Sumber : Skripsi Ari Chandra
Penelitian
ini menggunakan rancangan penelitian dengan hasil akhir berdasarkan dua
kelompok yaitu : kelompok lampu TL dengan ballast kumparan dan ballast
elektronik. Eksperimen diulang sebanyak 5 kali dan diukur 5 kali untuk
masing-masing kelompok dan kemudian dirata-ratakan.
Instrument Alat Ukur
Instrumen
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk analisis
pengujian secara terbuka. Dalam hal ini telah diuji dengan cara pengukuran
sesuai gambar rangkaian pengujian yang telah ada (rizal22, 2012).
Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam
penelitian ini mempunyai faktor kecermatan atau kelas dari 0,1% sampai dengan
1%, yang terdapat pada Laboratorium Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri
Jakarta.
1. Kecermatan (Accuracy)
Kecermatan alat ukur biasanya dinyatakan dalam
persen untuk skala penuh misalnya ± 2% untuk skala penuh, ini berarti kalau
sekiranya angka atau jarum menunjukan harga skala penuh 10 volt, maka harga
sebenarnya ada diantara (10 volt + 2%) dan (10 volt – 2%) atau antara 9,8 –
10,2 volt.
Pada Instrumen yang digunakan misalnya volt meter yang mempunyai skala
penuh 250 volt, kecermatan alat ± 1,5%, jika jarum menunjukan pada angka 220
volt, sehingga dapat dihitung
kecermatan dititik skala itu, yaitu : (0,015 : 220 volt)x 250x 100% = 1,7 %, sedangkan untuk kecermatan
untuk penunjukan 110 volt menjadi (0,015 : 1100 volt)x 250x 100% = 3,4 %.
Alat atau instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Digital Instrument (Watt Meter Digital)
digunakan untuk mengukur daya listrik pada ballast.
-
Model
DW 6060 Lutron
-
9 V
NEDA 1604 6F 22 006P Made Taiwan
Gambar 3. Digital
Instrument
(Watt Meter Digital)
2. Alat Ukur Jarum Manual (Voltmeter, Amperemeter dan
miliAmpermeter) digunakan untuk mengukur tegangan dan arus listrik pada
ballast.
-
HELES
Tipe CR-52 Class 2.5 :271488
-
Alat
Ukur Jarum Manual : a.Voltmeter,
b. Ampermeter,
Penelitian ini dilakukan terhadap 5 jenis ballast
yaitu 3 jenis ballast kumparan dan 2 jenis ballast elektronik. Setiap ballast
diukur tegangan, arus, daya dan faktor dayanya (cos j). Adapun prosedur penelitian yang
dilakukan diantaranya:
1. Menyiapkan alat-alat pengumpul data
penelitian (instrumen) dan alat serta bahan seperti voltmeter, amperemeter,
miliamperemeter, wattmeter, ballast kumparan, ballast elektronik dll, sehingga
dalam pengumpulan data ini tidak terjadi hambatan.
2. Menyiapkan blangko pencatat hasil
percobaan guna memudahkan mencatat data-data hasil penelitian yang telah
dilakukan.
3. Memasang ballast pada rangkaian atau alat
sesuai daya lampu kemudian dihubungkan dengan alat ukur dan sumber listrik
4. Mengadakan uji coba Instrumen setelah
rencana pengamatan yang harus dilakukan tersusun, selanjutnya diadakan uji alat
ukur agar data hasil penelitian tidak terjadi kesalahan dan menghindari
kesulitan-kesulitan pada saat pengambilan data.
5. Percobaan dilakukan satu persatu ballast
menurut jenis dan daya yang tercantum secara bergantian dalam beberapa hari.
6. Hasilnya dicatat secara benar dan cermat
sesuai tabel instrumen.
7. Pergunakan alat ukur sesuai dengan
fungsinya.
8. Setelah melakukan pengukuran rapikan alat
dan bahan.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis
data dilakukan dengan menggunakan metode Eksperimen, yaitu cara pengujian alat
atau komponen lampu TL yaitu ballast kumparan dan elektronik.
Data diambil dari hasil
pengukuran masing-masing jenis-jenis ballast tersebut, yang tiap-tiap jenis
atau merk terdiri 3 ballast kumparan dan 2 ballast elektronik sebanyak 5 kali
percobaan. Data-data hasil pengukuran dari kedua tipe yang berbeda tersebut
akan dirata-ratakan dan dibandingkan untuk melihat seberapa besar perbedaan
ballast tersebut.
Variabel Penelitian
Variabel
penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel terikat
adalah hasil pengukuran power and cos j meter elektrik pada ballast.
Variabel bebas
adalah jenis ballas yang terdiri dari: (1) Ballast Kumparan dan (2) Ballast
Elektronik.
Disamping
Ballast sebagai variabel bebas ada variabel kontrol lain yang didapat diambil
sebagai variabel bebas antara lain yaitu : besar daya, tegangan, arus, type
lampu TL, merk ballast.
Populasi, Sampel dan Teknik
Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua hasil pengukuran power and cos j
meter elektrik yang menggunakan dua jenis ballast yaitu ballast kumparan
dan elektronik. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil
pengukuran power and cos j meter elektrik yang menggunakan ballast kumparan
dan elektronik, yang terdiri dari 3 ballast kumparan dan 2 ballast elektronik (Susanto, 2007).
Hasil percobaan akan diuji power
dan cos j meter elektrik. Satu
sampel akan diukur dengan alat Cos j meter sebanyak 5 kali kemudian diambil
rata-ratanya. Hasil nilai rata-rata tersebut adalah nilai dari tiap satu sampel
dan merupakan data yang akan dianalisa.
HASIL PENELITIAN
Penelitian untuk mengukur besarnya
faktor daya (cos j)
pada rangkaian ballast kumparan dan ballast elektronik dengan percobaan
sebanyak 5 kali. Hal ini bertujuan untuk memperoleh nilai yang akurat, pada
hasil penelitian ternyata menghasilkan data yang mengalami perubahan pada
besarnya faktor daya (Cos j) tiap ulangan pengukuran tapi tidak begitu signifikan
nilainya.
Dari hasil pengukuran dan perhitungan
dari 2 macam ballast sebanyak 5 kali percobaan dapat disimpulkan bahwa dari
data hasil perbandingan pengukuran dan perhitungan yang telah di jabarkan pada
sub bab hasil penelitian menerangkan bahwa ballast kumparan lebih besar arusnya
dari pada ballast elektronik dengan daya ballast yang sama yang terdapat pada
hasil pengukuran dan perhitungan arus
(mA) lampu TL 1x18watt serta lampu TL lainnya.
Pada daya ballast kumparan lebih
besar daripada spesifikasi ballast tersebut yang terjadi pada lampu TL 1x18
watt ditulis 18 watt ternyata pada dilakukan pengukuran sebesar 26,4 watt dan
dihitung sebesar 26,36 watt tapi pada ballast elektronika daya pada ballast
mendekati daya yang tercantum dispesifikasi ballast tersebut pada lampu 1x18
watt yang tertulis di ballast 18 watt di ukur sebesar 18,6 watt dan dihitung
sebesar 18,57 watt maka dapat disimpulkan bahwa ballast elektronik lebih
efisien dan hemat.
Dari hasil pengukuran dan perhitungan
seluruhnya ballast kumparan dan ballast elektronik untuk tegangan standart PLN range 220-240 Volt dapat
disimpulkan bahwa tegangan ballast
elektronik philips lebih besar lalu ballast kumparan db, ballast elektronik
sanex, ballast kumparan triends dan ballast kumparan philips. Pada hasil
pengukuran dan perhitungan arus ballast kumparan dan ballast elektronik
ternyata tiap daya ballast 10, 18 dan 36 berbeda hasil yang paling mendekati
arus nominalnya pada ballast daya 10 watt yang paling kecil arusnya ballast
kumparan, ballast db dan ballast triends, pada daya ballast 18 watt yang lebih
kecil arusnya pada ballast elektronik
philips, sanex, ballast kumparan db, triends dan ballast kumparan philips yang
besar arusnya (Sudibyo, 2011)
Daya listrik pada ballast kumparan dan
ballast elektronik dapat disimpulkan bahwa
ballast elektronik lebih mendekati daya yang tercantum pada ballast
tersebut lalu ballast kumparan dan pada faktor daya ballast kumparan dan
ballast elektronik (cos j) dapat simpulkan bahwa ballast elektronik lebih besar
atau baik faktor dayanya yang mendekati standart
PLN yaitu 0,668.
Untuk peralatan listrik
yang dihubungkan untuk memberikan keluaran tertentu oleh kebutuhan
volt-ampere beban, karena itu keluarannya dipengaruhi langsung oleh faktor daya
beban yang bersangkutan. Dengan faktor daya maksimum, kerugian daya karena
resistansi saluran akan berkurang, alasannya adalah untuk memberikan daya sama
besar, diperlukan arus yang lebih besar bila faktor daya maksimum lebih rendah
daripada faktor daya beban yang mempunyai faktor daya lebih tinggi. Rugi-rugi
yang ditimbulkan oleh resistansi saluran sebanding dengan pangkat dua arus yang
mengalir dalam saluran, karena itu rugi-rugi ini akan menjadi lebih kecil bila
faktor dayanya tinggi. Perbaikan atau koreksi faktor daya tersebut dapat
dilakukan dengan memasang kapasitor yang dihubungkan paralel dengan beban yang
umumnya bersifat induktif, perbaikan faktor daya ini dikenal dengan kompensasi
fasa.
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam penelitian ini masalah yang diungkap adalah mengenai besar faktor
daya listrik pada lampu TL yang menggunakan ballast kumparan dengan ballast
elektronik
Hasil dari pengukuran dari tiga buah ballast kumparan dan dua ballast
elektronik diperoleh nilai besar daya listrik pada lampu TL dengan menggunakan
ballast kumparan merk philips 10, 18 dan 36 watt, merk DB 10, 18 dan 36 watt,
merk triends 10, 18 dan 36 watt serta besar daya listrik lampu TL dengan
menggunakan ballast elektronik merk philips 18 dan 36 watt, merk sanex 18 dan
36 watt.
Daya yang terdapat di dalam rangkaian lampu TL lebih dipengaruhi oleh
arus dan faktor daya listrik (Cos j), semakin tinggi faktor dayanya akan semakin kecil
arusnya dan semakin kecil pula dayanya berati semakin efisien energi yang terpakai.
Daya listrik yang dipakai dalam lampu TL yang diukur dan dihitung ternyata
melebihi dari daya tertulis.
Berdasarkan analisis data hasil pengukuran dan perhitungan menunjukkan
bahwa daya listrik pada lampu TL yang menggunakan ballast kumparan lebih besar
dari pada daya listrik yang menggunakan ballast elektronik. Hal ini disebabkan
karena ballast kumparan memiliki Cos j kecil dari pada Cos j
ballast elektronik yang mendekati 0,607 – 0,668.
Dilihat dari hasil pengukuran dan perhitungan yang mempunyai nilai faktor
daya listrik (cos j)
yang tinggi adalah ballast elektronik merk philips, yaitu cos j-nya
sebesar 0,668, yang berarti 23,65% tertinggi dari nilai faktor daya listrik
(cos j)
ballast lainnya.
Pada ballast kumparan terdapat rugi-rugi pada gulungan atau kumparan
kawat sehingga Cos j
lebih kecil dari pada ballast elektronik yang tidak terdapat rugi-rugi karena
terbuat dari rangkaian atau sirkuit elektronik.
Saran
Dari hasil penelitian diharapkan:
1. Mahasiswa program studi pendidikan teknik
elektro dapat memanfaatkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini khususnya
dalam hal jenis ballast yang digunakan untuk sebuah lampu TL dan pemakaian daya
listrik pada mata kuliah teknik instalasi listrik dan mata kuliah bahan-bahan
listrik.
2. Mahasiswa teknik elektro dapat melanjutkan
penelitian ini dengan mengangkat kelemahan yang ada dalam penelitian skripsi
ini.
3. Penelitian ini merupakan tahap awal
mendorong mahasiswa melakukan penelitian selanjutnya berupa proses penyalaan
lampu agar cepat menyala dan penggunaan kapasitor untuk mengurangi daya listrik
atau kehilangan faktor daya.
4. Kepada Jurusan Teknik Elektro khususnya
Program Studi Teknik Elektro agar menyediakan alat-alat praktikum yang baru
khusunya alat ukur cos j meter
karena yang ada di jurusan sudah error dan perlu diadakan kalibrasi dan
diadakan yang baru untuk mempersiapkan mahasiswa-mahasiswinya bisa terjun di
dunia kerja atau pendidikan berkompeten.
5. Didalam penggunaan lampu TL, hendaknya
konsumen memilih ballast yang efisien dan hemat energi seperti pada ballast
elektronik.
DAFTAR PUSTAKA
Amelia, Afritha ST.; Azis, Ir.Abdul
M.M.; Hasibuan,
Arnawan
ST,M.T.; 2007. Perbaikan
Ekonomis Pemakaian Lampu
Incandescent dengan Lampu
Flourescent, Medan:
Politeknik Negeri
Medan.
Aulawi, A
Wasit,S.Pd. 2004.
Perbandingan Besar Daya
Listrik Pada Lampu TL yang
Menggunakan Ballast
Kumparan Dengan Ballast
Elektronik Untuk Beban
Lampu TL 36 Watt Merk
Philips [skripsi]. Jakarta:
Universitas Negeri Jakarta.
Badan Standardisasi Nasional. 2000.
Peraturan Umum Instalasi
Listrik.
SNI 04-0225-2000.
Belly , Anton.; Dadan, Asep.;
;Agusman,Candra.;
Lukman.
Budi. 2010.“Daya Aktif,
Reaktif & Nyata”.
(diunduh).http://staff.ui.ac.id/
internal/040603019/material
activereactiveandapparentpo
werpaper.pdf.
[10-01-2013,
14:08 wib].
Kuspijani. Ir.; Afianti,
Hasti,S.T,M.T.;
Amirullah,S.T.2007.
Efisiensi
Penggunaan Daya Listrik
Pada Rangkaian Lampu TL
Melalui Perbaikan Faktor
Daya,
(Surabaya: Lembaga
PenelitianUniversitas
Bhayangkara Surabaya.
Nugroho,
Cahyo.2010. “Pert.I
Pengertian_daya_arus
dan
tegangan”.(diunduh).http://cahyokrisma.wordpress.com/2010/07/23/pert-i-pengertian-daya-arus-dan-tegangan/) [13-01-2013, 14:28 wib].
rizal22, muhammad.2012. “Faktor
Daya“ (2012-06-04).
Samaulah, Ir.H.Hazairin,.M.Eng.,
Ph.D. 2002.Teknik Instalasi
Tenaga Listrik, Sumatera
Selatan:
Universitas
Sriwijaya.
Sudibyo,
Djoni. “Stop Kontak“.
2011.(diunduh).http://www.tabloidhunianku.com/index.php?option=com_content&task=view&id=646&Itemid=152> [18-01-2013, 4:05 wib].
W.K. Susanto. “ballast” (Friday,
June 8,2007).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar